Recent Posts

Mengulas tentang sejarah ANDROID

Android adalah sistem operasi untuk telepon seluler yang berbasis Linux. Android menyediakan platform terbuka bagi para pengembang aplikasi piranti bergerak

Android versi 2.2 (Froyo: Frozen Yoghurt)

Android versi 2.2 Froyo ini menambahkan beberapa fitur yang lebih baik dari android versi Eclair 2.1.

Android versi 2.2 (Froyo: Frozen Yoghurt)

Android versi 2.2 Froyo ini menambahkan beberapa fitur yang lebih baik dari android versi Eclair 2.1.

Android versi 2.3 (Gingerbread)

Pada 6 Desember 2010, Android versi 2.3 (Gingerbread) diluncurkan. Perubahan-perubahan umum yang didapat dari Android versi ini antara lain peningkatan kemampuan permainan (gaming)

Android versi 3.0/3.1 (Honeycomb)

Android Honeycomb dirancang khusus untuk tablet. Android versi ini mendukung ukuran layar yang lebih besar. Honeycomb juga mendukung multi prosesor dan juga akselerasi perangkat keras (hardware) untuk grafis.

Tuesday, April 2, 2013

Google translate ofline untuk Android


Google telah memperbarui aplikasi Google Translate untuk perangkat Android, Kamis (28/3/2013). Aplikasi penerjemah bahasa ini sekarang bisa diakses tanpa koneksi internet (offline).

Google Translate offline di Android ini mendukung 50 bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Untuk menggunakannya, pastikan dulu bahwa Anda telah memperbarui aplikasi Google Translate di toko aplikasi Google Play Store.

Agar mode offline bisa berjalan, Anda terlebih dahulu harus mengunduh paket bahasa yang diinginkan. Caranya, masuk ke aplikasi Google Translate, klik menu di kanan atas, lalu pilih Offline Language.

Nah, Anda tinggal memilih paket bahasa yang ingin diunduh. Aplikasi ini sudah membawa paket bahasa Inggris di dalamnya.

Jika berwisata ke Thailand dan tak mengerti bahasa setempat, mungkin aplikasi ini bisa membantu dalam berkomunikasi. Anda tinggal mengunduh bahasa Thailand dan bahasa Indonesia agar kedua bahasa itu bisa saling menerjemahkan secara offline.

Google translate ini baru bisa berjalan pada sistem Android versi 2.3 atau di atasnya









Versi offline Google Translate kurang komprehensif jika dibandingkan dengan versi online. Namun, versi offline tetap sangat berguna untuk menerjemahkan kata atau kalimat ketika Anda bepergian ke luar negeri dan tak memiliki akses internet.

Source

Download Burn the Rope untuk Android


Sudah pernah mendengar game Burn the Rope? Game ini menjadi pembicaraan di mana-mana, meski tidak sepopuler Angry Birds. Burn the Rope adalah game petualangan puzzle sederhana namun cukup addictive. Bagaimana cara bermainnya? Bakar sebanyak mungkin tali!

Burn the Rope untuk Android hadir dengan grafis yang cantik, efek api yang mengesankan, lebih dari 100 level yang menyenangkan, dan puzzle untuk pengguna baru yang dihasilkan setiap harinya. Anda akan menemui jenis-jenis serangga yang berbeda, ada Fire Bug, Water Bug dan Electric Bug. Masing-masing serangga itu memiliki point yang berbeda.

Cukup dengan tap untuk membakar talinya. Tapi ingat, Anda juga harus memutar perangkat Android untuk memastikan api tetap menyala. Permainan juga diramaikan dengan bonus level dan non-stop pyro action. Game yang telah banyak direview sebagai “App of the Day” di beberapa media dan “Best iPhone Games 2010” ini sepertinya layak untuk Anda coba. Siap untuk membakar talinya? Segera download gamenya secara gratis di google play

Download: Game Adiktif 'Rope Escape' for Android


Anda pernah memainkan game populer Temple Run? Jika Anda sudah pernah memainkan Temple Run barangkali Anda perlu mempertimbangkan game adiktif lainnya yang berjudul Rope Escape yang telah hadir untuk perangkat Android.

Temple Run dan Rope Escape memiliki gameplay yang hampir sama, yaitu melarikan diri. Jika dalam Temple Run Anda harus melarikan diri dengan cara berlari di hutan, dalam permainan Rope Escape Anda harus melarikan diri dengan cara bergelantungan menggunakan tali dari pohon ke pohon di tengah hutan. Tujuan permainan Rope Escape sangat sederhana, yaitu meloloskan diri dari kejaran orang liar dan untuk mendapatkan skor tertinggi Anda harus mengayun lebih tinggi.

Rope Escape menawarkan gameplay yang mampu membuat Anda ketagihan untuk terus memainkannya. Rope Escape didukung karakter lucu dan penuh warna serta terintegrasi dengan Facebook untuk bisa menantang teman-teman Anda.

Jadi apalagi yang Anda tunggu? Segera mulai mengayun lebih tinggi untuk mendapatkan skor terbaik di antara teman-teman Anda melalui Rope Escape. Anda bisa download Rope Escape secara gratis melalui Google Play Store.

Thursday, March 29, 2012

Rice Cooker Terintegrasi Smartphone dari Panasonic


Panasonic dikabarkan akan mengintegrasikan smartphone pada rice cooker. Dijuluki sebagai Panasonic SR-SX2 Series IH Jar Rice Cooker, perangkat ini akan dilengkapi dengan sejumlah fitur mewah pada high-end rice cooker, termasuk “200 ℃ Steaming,” “Great Thermal Dancing Boil” dan “Diamond Furnace”, yang konon akan membuat rasa nasi jauh lebih baik dari sebelumnya.

Selain itu, rice cooker ini juga dilengkapi dengan dock untuk smartphone Android. Pengguna harus mendownload aplikasi khusus terlebih dahulu, di mana mereka akan mendapatkan setting SR-SX2 yang berbeda, dengan sentuhan sederhana pada layar smartphone.

Tak hanya itu, handset juga dapat terhubung denagn recipe-sharing cloud server Panasonic, download instruksi memasak untuk referensi. Hmm.. sepertinya teknologi memang tak pernah berhenti berinovasi

Berhati-hatilah, Android Malware Mampu Mencuri Data Perbankan Anda!


Para peneliti di McAfee menemukan sebuah aplikasi Android yang terdeteksi sebagai malware. Yang membuat malware ini patut diwaspadai adalah kemampuannya dalam mencuri banking password langsung dari Android devices tanpa menginfeksi komputer pengguna.

Android Malware yang dimaksud adalah FakeToken, memiliki kemampuan untuk membobol dua authentication tokens yang umumnya diminta sebelum data bisa diakses. Selain itu FakeToken juga bisa dikendalikan dari jarak jauh untuk mencuri password perbankan langsung dari Android device yang terinfeksi.

Carlos Castillo dari McAfee menjelaskan seperti berikut:
Malware ini menjadikan sejumlah bank terkenal sebagai target dan menyamar sebagai aplikasi Token Generator. Kenyataannya, saat aplikasi tersebut diinstall maka malware akan menggunakan logo dan warna dari bank tersebut sebagai icon aplikasi sehingga terlihat kredibel di mata user :

Saat aplikasi ini melakukan kejahatannya maka akan terlihat sebuah komponen WebView yang menampilkan sebuah web page HTML/JavaScript yang berpura-pura menjadi sebuah Token Generator. Web page itu juga terlihat seperti bank yang dijadikan target (malware yang sama tetapi dengan muatan berbeda).


Untuk bisa menghasilkan token palsu, Castillo menemukan bahwa user harus memasukkan sandi pertama dari dua authentication (digunakan untuk mendapatkan akses ke akun perbankan). Jika user tidak memasukkannya maka aplikasi akan menunjukkan eror.

“Saat user klik ‘Generar’ (Generate) maka malware ini akan menunjukkan token palsu (yang hanya merupakan nomor acak) dan mengirimkan password ke nomor ponsel tertentu bersama dengan IMEI dan IMSI. Informasi yang sama juga dikirim ke control servers bersama data yang lebih banyak seperti nomor ponsel user. Malware ini bisa mendapatkan daftar control servers dari sebuah XML file yang ada di dalam original APK.”
Selain itu malware Android ini juga memiliki sejumlah commands untuk update software atau memata-matai ponsel yang telah terinfeksi. FakeToken app juga mampu membobol daftar contacts yang tersimpan dalam ponsel, baik nama maupun nomor ponsel contacts.

“Android malware yang menjadikan bank sebagai target melakukan evolusi yang berkelanjutan: man-in-the-middle attack (seranga virus melalui messages) hingga kini berubah menjadi Trojan perbankan yang bisa dikendalikan dari jarak jauh, bahkan bisa mencuri satu factor dari authentication dan update software, seperti memodifikasi phishing attack untuk mendapatkan nomor akses lain seperti nama dan nomor ponsel. Karena meningkatnya popularitas Android dan aplikasi mobile-banking, kami perkirakan ancaman membahayakan semacam ini akan muncul lebih banyak lagi.”

Tips Menghemat Baterai di Ponsel Android

Sejumlah komplain yang muncul dari para pengguna ponsel Android adalah daya pakai baterai yang tergolong singkat. Seperti diketahui, Google melengkapi Android dengan beragam konektivitas yang sayangnya membutuhkan konsumsi baterai tinggi. Sebagai contoh, music streaming memang fitur utama dari Android, tapi itulah yang menyebabkan baterai cepat habis. Jika Anda memutuskan tidak melakukan music streaming, maka Andapun pasti tidak bisa menikmati fitur penting itu.   

Perlu juga diketahui aplikasi apa saja yang memakan banyak baterai. Dengan demikian Anda bisa mematikannya ketika tidak digunakan sehingga baterai bisa lebih irit. Beberapa diantaranya:

1. GPS

Gunakan GPS jika perlua saja. Aplikasi ini memakai daya baterai dalam jumlah besar. Anda bisa menggunakan Power Control widget untuk dengan cepat mematikan dan mengaktifkannya jika dibutuhkan. Untuk mengetahui ON/OFF Anda cukup melihat di notification bar; sebuah icon GPS akan muncul jika GPS dalam keadaan aktif. 



2. Bluetooth

Matikan konektivitas Bluetooth jika Anda tidak menggunakannya. Cara tercepat untuk ON/OFF adalah dengan menekan widget Bluetooth pada homescreen. 

Google Ads,Penyebab Borosnya Konsumsi Baterai Perangkat Android


Sebuah tim peneliti dari Purdue University dan Microsoft baru-baru ini melakukan sebuah penelitian yang menarik. Riset mereka menemukan fakta bahwa iklan-iklan pop-up yang muncul di aplikasi-aplikasi Android gratis ternyata menyedot energi sebesar 75 persen dari total konsumsi tenaga yang dibutuhkan oleh aplikasi tersebut.

Hasil ini diperoleh dengan bantuan sebuah energy profiler yang bernama EProf yang mampu menganalisa konsumsi tenaga dari sebuah perangkat dengan memonitor tiap-tiap aplikasi. Tim tersebut melaksanakan tes ini pada sebuah perangkat Nexus One yang beroperasi menggunakan Android 2.3 dengan aplikasi-aplikasi populer seperti Angry Birds, FreeChess serta New York Times app.

Ketika menguji game Angry Birds, mereka menemukan bahwa game itu sendiri hanya mengkonsumsi 20 persen tenaga dari total konsumsi tenaga yang dibutuhkan oleh aplikasi tersebut, dan sisa keperluan konsumsi tenaganya ternyata digunakan untuk menampilkan iklan. Untuk melakukan hal ini, ponsel tersebut diharuskan mengupload lokasi pengguna pada sebuah server lalu mendownload iklan tersebut lewat sebuah koneksi data. Upload untuk lokasi memang hanya dilakukan satu kali, namun data untuk tiap iklan baru akan didownload secara terus menerus. Untuk aplikasi FreeChess ternyata juga menampilkan hasil serupa.

Perlu dicatat bahwa yang dibicarakan disini adalah 80 persen dari total konsumsi tenaga yang dibutuhkan oleh aplikasi tersebut, bukan total konsumsi tenaga dari ponsel itu sendiri. Inilah yang menyebabkan Anda sulit untuk memeriksanya via battery manager dari ponsel Anda karena apa yang ditampilkan sebatas total konsumsi tenaga yang dihabiskan oleh aplikasi tersebut plus konsumsi tenaga yang dihabiskan oleh iklan-iklan tadi. Jadi garis besarnya adalah, ketika ponsel Anda menginformasikan bahwa aplikasi Angry Birds telah menghabiskan 30 persen tenaga baterai dari ponsel Anda, maka game Angry Birds sendiri hanya mengkonsumsi 20 persen tenaga dari 30 persen total konsumsi tenaga yang diinformasikan tadi, dan sisanya habis untuk menayangkan iklan-iklan pop-up ketika Anda sedang memainkan game tadi.

Jadi kini telah jelas bahwa kesalahan terletak pada iklan-iklan yang disertakan di dalam aplikasi-aplikasi gratis tadi, faktor gratis tersebut merupakan ujung masalah yang bersumber dari berbagai faktor seperti coding yang buruk untuk aplikasi tersebut serta minimnya optimalisasi aplikasi untuk perangkat tipe tertentu